Sabtu, 20 Juni 2009

Tiga Tersangka

Dalam kabut malam kedelapan dibulan Oktober, mengapung sesosok tubuh tak bernyawa. Berayun pasrah diantara para ombak yang beriring kompak menujun pantai. Diantara pasir dan buih air asin, ia terdampar cuek dengan semua penghuni laut yang kian memperhatikan.

Seiring waktu, mayat tersebut teridentifikasi sebagai Ali, nelayan yang tinggal tak jauh dari TKP. Saksi yang ditemui berkata, korban sering pergi memancing sendiri. Bukan tak ada teman, melainkan agar lubuk tempat ia biasa memancing tetap menjadi surga hanya bagi dirinya.

Penyebab kematiannya jelas karena tenggelam. Tewas dengan cukup menyakitkan, beberapa menit tersiksa karena air laut mendesak masuk kedalam mulut dan dalam sekejap memenuhi rongga paru-paru diseluruh dada.

Saksi yang lain mengaku terakhir melihat korban bersama 3 orang sedang ngobrol. Lalu diketahui bahwa mereka adalah :

Bondan, pria pendek gendut perokok berat.
Chaidir, lelaki kurus berkacamata yang tinggal bersebelahan rumah dengan korban.
Darno, remaja tua berumur 33 tahun. Sering ikut memancing dengan siapa saja yang tak keberatan oleh kehadirannya.

Tim penyalidik menemukan sampan milik korban tenggelam didasar laut tak jauh dari tempat kejadian perkara, lengkap dengan tali jangkar yang tersangkut, mesin yang ikut tenggelam, serta layar yang terikat ditiang sampan.

Tak terlalu sulit mengevakuasi barang-barang milik korban tersebut kebibir pantai. Kilauan blitz fotopun sesaat menghiasi detik-detik investigasi awal.

Selang beberapa menit, ketiga pria terakhir yang ditemui korban akhirnya dapat dikumpulkan polisi. Mereka membenarkan telah menemui korban, namun tidak dalam waktu yang bersamaan.

Darno adalah yang pertama mengahmpiri Ali. Ia menawarkan diri untuk ikut memancing. Namun korban menolak dengan alasan umpan yang ia miliki hanya cukup untuk satu orang. Lalu tanpa segan, korban malah meminta bantuan Darno untuk membantunya memasanag layar.

Setelah selesai memasang layar, Darno segera pulang. Dijalan ia mengaku sempat berpapasan dengan Chaidir yang membawa mesin sampan. Ternyata mesin yang dibawa Chadir adalah mesin yang ingin dijual kepada Ali. Waktu itu Ali ingin mencoba mesin tersebut.

Setelah Chaidir meninggalkan korban, dari arah laut, merapat sampan milik Bondan yang baru selesai memasang perangkap ikan. Bondan mengaku bahwa jangkar yang tenggelam bersama korban adalah miliknya yang dipinjam sang korban.

Setelah selesai menginterogasi, terungakp fakta bahwa korban belum lama menjadi nelayan. Maka tak heran ia hanya bermodalkan sampan milik saudaranya yang dititipi padanya. Sedangkan layar, mesin hingga jangkar ia pinjam dari orang lain.

Shawn dan aku sempat melihat barang-barang milik korban. Kali ini Shawn cukup mengenal seorang sersan yang bertugas, jadi kami bisa sedikit leluasa berkeliaran di TKP.

Aku sempat mendengar pernyataan sersan Harry bahwa kesimpulan sementara berdasarkan fakta-faktayang ada mengarah pada peristiwa kecelakaan. Menurut warga setempat, cuaca beberapa minggu terakhir memang sangat rawan badai. Dan akan tetap seperti ini hingga 2 atau 3 minggu mendatang.

Shawn hanya diam dan menundukkan kepala sambil terus memperhatikan barang bukti. Ia lalu meminta izin pada Sersan Harry untuk memeriksa mesin, layar, sampan, dan jangkar yang tenggelam bersama korban.

Aku terus berada disampingnya memperhatikan kelakuan sobatku ini. Mulai dari menuangkan bahan bakar mesin yang tersisa kedalam kaleng, memeriksa simpul pada layar, mengukur panjang dan berat tali beserta jangkarnya, hingga kondisi sampan yang dinaiki korban.

“Ayo Andi, akupunya tugas untukmu” tegur Shawn.

“Kau maukan menolongku mencari tali yang agak panjang kepada penduduk disini?”

“Tentu Shawn” jawabku

“Ok kalau begitu, kutunggu didermaga itu” katanya sambil menunjuk kearah tenggara dari tempat kami berdiri.

Tak sulit untuk mencari pinjaman tali. Setelah dapat, akupun menuju sebuah dermaga yang tadi ditunjuk Shawn.

Ternyata ia telah menunggu bersama sebuah sampan dan seorang nelayan.

“Andi, ayo naik !!!”

“Kita mau ngapain Shawn?” tanyaku penuh kebingungan.

“Kita ada sedikit percobaan bersama Pak Ismail ini ditengah laut”

Karena ia yang meminta, akupun tanpa rag uterus melompat ketengah-tengah perahu yang sudah siap berlayar.

“Nah, disinilah nak tempat sampan Pak Ali ditemukan”

“HEI !!!, Apa yang kau ;lakukan Shawn?!!!” kataku kaget melihat Shawn telah melepas pakaiannya dan bersiap terjun kelaut.

“Andi, tugasmu kali ini memegangi tali yang ujungnya terikat ditubuhku ini”

“Kau jangan gila Shawn !!! Apa kau ingin tahu seberapa lama manusia tahan tak bernapas didasar laut ?!!” aku berusaha mencegahnya.

Namun terlambat, sobatku ini langsung terjun dan dengan cekatan menyelam hilang kedalam laut. Akupun alngsung meraih ujung tali yang tadi ia perintahkan.

“Kau jangan kuatir nak,” ujar Pak Ismail “tampaknya keahlian berenang temanmu tak peril diragukan” ia menambahkan.

Tali yang kupegang tiba-tiba berhenti terulur, malah terasa satu sentakan. Refleks kuperkuat genggamanku.

Dan tiba-tiba Shawn malah muncul tepat disamping sampan yang kami naiki.

Bukannya segera naik, Shawn malah menyuruhku tetap memegang tali ditempat aku merasakan sentakan.

“Aku bisa naik sendiri sobat” ia berkata waktu melihatku ingin membantunya naik.

“Ayo pak kita kembali kedermaga” perintah Shawn.

Tiba dipantai, aku sedikit protes terhadap tindakan sobatku ini yang bagiku ia lakukan tanpa sebab yang jelas. Ia sendiri malah asik mengira-ngira panjang tali yang terulur kedasar laut tadi, membuatku sedikit terjangkiti rasa kesal.

“Maaf Andi, aku benmar-benar tak kuasa menahan rasa penasaran yang membayangiku sejak menemukan keganjilan-keganjilan pada ketiga barang bukti yang kita perhatikan tadi”

Bagiku barang-barang tersebut tidak menunjukkan adanya kejanggalan, baik bentuk maupun kondisinya” jawabku masih dengan sisa kesal padanya.

“Ah sobat, sifatmu tetap tak berubah ya… Masih menganggap kejanggalan adalah suatu keadaan normal”

“Oh ya?!!” komentarku

“Ya, tentu saja.” Shawn menjelaskan “Ketiga barang bukti yang ada masing-masing memiliki kejanggalan-kejanggalan yang seolah disengaj. Mulai dari mesin sampan yang bahan bakarnya hampir habis, tali jangkar yang tak seberapa panjangnya, serta simpul layar yang mudah terlepas dan diikat diujung tali yang rapuh. Bukankah benar sobat ?” ia kembali menantiku memberikan pandangan

Aku pura-pura diam, namun aku yakin kebisuanku adalah jawaban yang jauh lebih jelas bahwa aku sangat-sangat setuju dengannya daripada kata-kata yang akan aku utarakan.

“Jadi kamu beranggapan bahwa ini merupakan pembunuhan ?”

“Pembunuhan jarak jauh yang terencana tepatnya Andi” ia merespon pertanyaanku dengan cukup serius

“Lalu, kamu juga tahu siapa pelakunya?”

“95% aku yakin dialah pelakunya…”

“Siapa Shawn ?”


Didepan ketiga saksi dan beberapa polisi bagian investigasi, Shawn akhirnya menjawab pertanyaan ditengah jalan tadi.

“Sersan Harry, izinkan saya sedikit memberikan pandangan yang mudah-mudahan mampu menjadi jalan keluar dari peristiwa hitam ini” Sersan Harry mengangguk pelan

“Apa kamu menuduh kami dapat membunuh orang tanpa sedikitpin menyentuhnya?” sela Bondan. Para penduduk mulai melepaskan semilir kata-kata mencibir dan tertawa semu.

“Apasih yang gak mungkin ?” kata Shawn, ia melanjutkan
“Dari benda-benda yang kalian sentuh sesaat sebelum korban berlayar menuju kedermaga akhirat, salah satunya merupakan benda yang telah berubah dan dapat menjadi senjata pembunuh jarak jauh”

Suara gemerisik keributan warga mulai pudar tersapu angin pantai

“Oh ya ?” Tanya Chaidir

“Coba kau jelaskan bocah…” tambah Darno

“Ya, mulai dari bahan bakar mesin yang hampir habis dimesin milik Bapak Chaidir, lalu Darno yang seolah dengan sengaja mengikatkan tali layar ditempat paling berpotensi mudah lepas, serta tali jangkar kepunyaan Bondan yang benar-benar pendek”

Dengan disertai perasaan penuh penasaran, Shawn secepat kilat mengarahkan ujung jari telunjuknya kearah salah satu saksi sambil berujar, “Namun, andalah yang paling bertanggung jawab atas kematian Saudara Ali, Bapak Bondan…….!!!”

“Apa kamu piker tali jangkarku dapat menjerat leher Ali hingga dia jatuh tercebur kelaut dan tenggelam?” Tanya Bondan

“Bukan korban yang tali anda incar, namun sampan miliknyalah target awal untuk menghabisi nyawa korban” Shawn terus berkata “Kalian tentu lebih paham bagaimana tekhnik memancing, bila telah tiba dilokasi yang diinginkan, maka para nelayan pasti memasang jangkar agar sampan miliknya tidak hanyut terbawa arus dan tetap terapung ditempat yang diinginkan. Maka dapat dibayangkan, dengan tali jangkar yang pendek maka posisi sampan akan tegak lurus dengan tali beserta jangkar yang berada didasar laut. Pelaku kini hanya tinggal menunggu ombak kuat yang akan membuat ujung sampan menukik kebawah dan perlahan membuat air laut sedikit demi sedikit masuk kedalam sampan dan akhirnya sampan memiliki massa lebih berat daripada air laut. Sehingga sampan cepat atau lambat akan tenggelam. Saya yakin semua aspek kesuksesan trik ini telah diperhitungkan oleh pelaku, mulai dari lamanya seorang nelayan seperti Pak Ali bila sedang memancing, pengalaman korban yang tak begitu paham tekhnik memancing, serta yang paling penting adalah panjang tali jangkar yang merupakan trik cerdik yang takkan pernah termaafkan oleh alam karena telah memanfaatkannya sebagai tangan malaikat penjagal”

Dengan tiba-tiba Bondan berbalik badan, diantara para warga ia menerobos kerumunan orang. Namun polisi telah berjaga-jaga atas permohonan Shawn untuk mengawasinya bila ia bertingkah mencurigakan. Sambil berteriak histeris, Bondan meluahkan semua permasalahannya dengan sang korban. Kata-katanya tak beraturan, kacau berantakan terseret bersama dirinya kedalam mobil polisi yang telah mulai mengaum sirene khasnya.

Seiring berlalunya para penduduk, maka berakhirlah satu sajak kebuasan manusia diteluk yang kini terkadang menghembuskan suara gemerisik dari siulan angin diantara jemari daun kelapa menyanyikan tembang dari jiwa yang terpaksa sendirian melayang kesepian.

Pagi, 08 februari 2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar