Dengan seluruh rasa yang ada, kutulis kisah ini hanya untukmu. Dengan kejenuhan terhadap kehidupan, kupandangi danau gelap dibawah cahaya bulan yang bersinar. Riak kecil dari tiap gelembung-gelembung kecil udara pernapasan makhluk hidup dalam air danau mengisi ruang kosong sudut sepi yang kurasakan.
Baru kusadari, betapa indah sinar purnama malam ini. Tak ingin kunikmati sendiri, kutarik ujung simpul sinar bulan yang terikat pada ujung akar bakau ditepi danau. Rasa hangat sedikit terasa disekujur tubuh. Kuraih botol kosong yang tak tepakai. Kugulung sulaman cahaya pada sekeliling botol tersebut. Sinarnya kian mengumpul pada satu titik, yaitu digenggaman tanganku. Merasa cukup silau dengan pancaran gelombang sinarnya, kugigit dipertengahannya. Satu ujung kubiarkan pada botol berkilau milikku. Ujung yang lainnya kulepas hingga berayun diudara melayang tanpa batas, hingga membuat seluruh penghuni disekitar danau terusik oleh ulahku.
Para penghuni air kini mulai mencari-cari penyebab yang membuat redup lingkungan kehidupan mereka. Sedangkan yang mendiami daerah daratan malah langsung tampak murka karena merasa telah ada yang mencuri sumber penerang mereka. Aku berakting pura-pura ikut panik. Padahal benda berharga yang dicari berada dalam jaket kulit yang kukenakan. Perlahan aku menjauh dari pusat keributan. Tanpa banyak bicara, aku menyingkir kepinggir hutan.
Ternyata, dampak dari perbuatanku sangat berpengaruh terhadap lingkungan sekitar danau. Hutan yang biasanya dapat kulewati dengan mudah, kini telah lebih gelap dari biasanya. Satu dua kali aku tersandung akar pohon. Apalagi ranting kering tajam, sudah tak terjangkau hitungan dalam ingatan telah berapa kali menggores tubuh. Sepenggal ungkapan membodohi diri sendiri terucap dalam hati. Kuteruskan dengan mengeluarkan botol berisi sinar Sang Luna dari dalam jaket hitam tebal milikku. Cahayanya merambah sekelilingku dalam radius beberapa meter, membuat diriku dengan jelas dapat menapaki jalan tujuanku.
Kini telah sampai ditepi jalan raya disebarang danau. Kumelangkah dengan tenang pulang kerumah. Tapi tampaknya, para penikmat hangatnya cahaya bulan tak bisa begitu saja melepaskan makhluk yang telah membawa pergi sebagian kehangatan milik mereka. Maka tak heran, sebagian dari mereka kini telah menghadang jurusanku. Pasti dari cahaya pada botol inilah yang telah menjadi sinyal alami dan memanggil mereka.
Terdiam sesaat, bukan terkejut. Hanya beberapa detik memeras otak. Berpikir cara aman untuk menghindar. Tak ingin menunggu lebih lama, akupun berlari kearah berlawanan. Merekapun segera bertindak. Dengan liar mengejarku dari belakang. Tapi, dari sekian banyak yang ingin menangkapku, hanya anjing dan srigala-lah yang terlihat membahayakan. Sedangkan sisanya seolah hanya sebagai pemeran pemain hiburan semata. Dengan cahaya digenggaman, kuterus menghindari kejaran kedua makhluk yang tercipta untuk memburu. Hampir tak ada jeda meski hanya untuk menoleh kebelakang. Aku hampir putus asa bila tak kutemukan cara aman menjauhi mereka. Tiba-tiba terlintas satu ide, kumasukkan botol bersinar milikku kembali kedalam jaket. Niatnya biar mereka tak bisa melihat target yang mereka kejar. Tapi, bukannya makin aman, malah kurasa hembusan hangat nafas beringas mereka kian dekat ditelinga. Lagi-lagi ocehan kebodohan kualamatkan kepadaku. Makhluk seperti mereka, 95 % penglihatannya berasal dari aroma sesuatu yang mereka buru. Jadi, meski Sang Surya benar-benar tenggelam diujung barat samudra, mereka paling hanya akan kehilangan kehangatan. Kembali kukeluarkan gulungan cahaya rembulan sebagai penunjuk jalan.
Sekarang aku mengarah kesebuah lorong gelap yang belum siap dibangun. Rencananya lorong ini akn menghubungkan seluruh negara didunia. Maka tak heran bila didalamnya seperti labirin yang sangat membingungkan. Kembali ide dadakan mencuat dari lekukan-lekukan sel disistem saraf pusat dalam otakku. Kutarik ujung cahaya bulan, dan kuulur sambil berlari hingga tercipta untaian tanda bersinar diatas tiap jalan yang kulalui. Kutetap pertahankan nafas yang kian kacau balau tak karuan. Kuberbelok ditiap tikungan yang ada. Entah berapa lama aku berlari. Cahaya bulan berbentuk benang inipun rasanya telah terpakai setengah sebagai kompas penunjuk jalan pulang nanti. Kini, sekitar beberapa ratus meter mulai terlihat ujung lorong hitam yang kulalui. Udara pengap yang sedari tadi hinggap, mulai sedikit beranjak dari perasaanku. Kuhirup nafas bebas dengan penuh oksigen segar, dan tentu saja gratis. Pandanganku langsung mencari jalan untuk tetap berlari menghindari Sang Srigala diikuti seekor Anjing hutan yang memburuku. Dihadapanku kini tergenang sebuah danau kecil yang tenang. Dengan cahaya benang sinar rembulan yang tetap kuulur, aku langsung saja terjun menyeberangi danau ketepian sisi berlawanannya.
Akhirnya Sang Srigala dan Anjing hutan tersebut tak mampu mencari sumber bau targetnya. Akupun boleh dikatakan selamat.
Kuputar jalan berlawanan arah jarum jam. Kumeniti tiap tepi titian danau mini ini, sambil kembali kugulung jalinan benang rembulan pada botol. Sambil tetap melangkah menuju garbang pulang.
Tiba dimulut lorong tempat pertama kali aku masuk, ternyata bentuk bulan sudah tak lagi bulat. Ujung cahaya yang telah kulepas rupanya tertiup angin dan terus menarik sinarnya. Kini Sang Bulan telah berubah menyerupai sabit, hilang sebagian kilaunya. Meski begitu, menurutku ia tetap indah. Malah makin menarik.
Tak ambil pusing, aku terus beranjak pulang. Setibanya dikamarku, langsung kuhidupkan komputer yang otomatis “conect to internet ’’. kujelajahi dunia maya dengan “search engine” andalanku, mencari informasi tentang alat tenun. Aku berniat menyulam benang bulan ini menjadi kain. 15 hari kuhabiskan untuk melihat, mempelajari, merakit alat tenun hingga selesai sepetak kain tenun yang bersinar khas cahaya bulan. Kupotong setengahnya sebentuk sapu tangan, lalu kutulis surat untukmu. Ya, inilah yang kukirimkan kepadamu wahai kasih. Dengan seluruh rasa sayangku kepadamu, kuberanikan diri membawa lari apa yang kini sangat dicari-cari.
Habis itu, akupun tak tahu mau kuapakan sisa tenunanku ini. Dalam jeruji kebingungan, kudengar sesuatu menghantam jendela kamarku. Langsung kudekati kaca dan kubuka jendela tersebut. Kilau yang serasa tak asing lagi bagiku tiba-tiba menyeruak masuk menembus sela-sela tubuhku. Ternyata, ujung benang berkilau milik Sang Bulan yang pernah kulepaskan kemarin telah mendatangiku, layaknya seseorang yang tengah meminta pertanggungjawaban seorang pelaku kejahatan. Kupandangi langit redup. Tampak satu wajah murung bulan yang kian kehilangan kharismanya. Terlintas sesal dan bersalah dalam benak didada. Kuraih ujung pintalan cahayanya. Ternyata, ia telah tersangkut ditepi raut mukanya yang runcing.
Seolah ada yang memanggil, aku menoleh kedalam kamar. Kain tenunanku seakan bersemangat bersinar dan menyilaukan. Segera kudekati meja tempat ia berada, kuraih kain tersebut dan kumasukkan kedalam saku bajuku. Kembali kudekati lubang jendela, kali ini aku keluar melewatinya. Kugenggam ujung tali sinar rembulan. Akupun mulai memanjat. Tak pasti berapa lama waktu yang telah kuhabiskan untuk menuju tempat Bulan berada. Yang aku ingat, hanya 15 kali Sang Surya telah muncul memberi semangat khas Timur dan tenggelam diantara bukit-bukit Barat.
Setibanya diatas sana, sejenak kulepas lelah dengan duduk dilengkungan tumpul dalam lingkar tubuhnya. Aku lalu mengeluarkan kain tenunan yang juga berasal dari tubuhnya. Aku berniat menambal lengkungan kosong pada dirinya. Dengan sedikit bantuan Ilahi, akhirnya aku sukses mengembalikannya kekondisi sedia kala. Mesk itak sama dan sesempurna dulu, sebelum sebagian dari dirinya kucuri. Paling tidak, aku telah merasa selesai menebus rasa bersalahku. Tak lama, akupun telah meluncur pulang kebumi.
Kini tak ada lagi yang akan dendam padaku, apalagi berniat menangkapku. Aku juga tak lagi merasa bersalah, setelah apa yang pernah kuperbuat. Dari bumi, bulan kembali bersinar penuh gairah. Bersemangat pancarkan cahaya hasil pantulan sinar Sang surya yang selalu setia berada diseberang khatulistiwa.
Ditiap 15 hari setelah kemunculannya yang samar-samar disebalik kabut awan, ia bahkan menampakkan tubuhnya yang elok dengan penuh kekuatan ajaib. Semoga kamu juga dapat lebih indah dengan sebagian serpihan dari dirinya.
Para penikmat cahayanya pun tak mengetahui bahwa secuil bagian darinya telah kupersembahkan kepadamu saat ini. Meski hanya sepotong, tapi ia tercipta atas untaian benang sinar rembulan terbaik sayangku. Lengkap dengan kilau keemasan dan kehangatan, serta tersulam bersama seluruh rasa kasihku kepadamu.
Maka janganlah kamu terkejut bila nanti suatu saat akan ada dongeng tentang seorang pemuda yang berhasil membawa lari sebahagian keindahan sang bulan, karena ia adalah aku. Atau nanti saat kamu mendengar desas-desus bahwa sinar bulan yang sekarang, sedikit redup jika dibandingkan pancarannya yang dahulu, karena sebagian kesempurnaannya kini telah berada padamu.
Tapi cintaku, kamu janganlah takut. Selama aku ada, aku akan selalu berusaha memendam misteri ini dalam-dalam. Aku percaya bahwa kamupun tak akan memperlihatkan sapu tangan tersebut dan membocorkan darimana asalnya kepada siapapun.
Hanya saja yang sedikit aku risaukan adalah, aku benar-benar lupa untuk memutuskan benang yang terjuntai milik sang bulan. Aku cemas, nanti suatu waktu ada seseorang yang menjumpainya. Terlebih bila ia memiliki sifat sepertiku. Ia pasti akan menempuh perjalanan panjang dan melelahkan untuk memanjat menuju bulan berada. Setibanya disana, aku yakin ia akan melepaskan kain tambalan yang kupasang untuk menutupi keroposnya sebagian tubuh bulan, untuk dipersembahkan kepada sang peri belahan jiwanya.
Sehingga, dimasa yang akan datang, takkan ada lagi yang dapat menikmati keindahan bulan purnama yang penuh pancarkan bias cahaya terangnya ditiap 15 hari kemunculannya. Bila saat itu tiba, anak cucu kita hanya akan bisa mendengar kisah yang menceritakan betapa luar biasanya bulan pada waktu dahulu.
Semoga kita dapat menutup rapat-rapat dam mempertahankan kisah ini. Serta tak lupa untuk terus berdo’a kepada sang penguasa semesta agar mengampuni semua perbuatanku dimasa kini.
Malam, 24 Maret 2008
Sabtu, 20 Juni 2009
Dream walker
Sayup getar embun meluncur cepat membelah tumpukan semak liar belukar. Kesadaranku kembali perkuat kelopak mata agar tetap selalu siap siaga terjaga. Sadar bahwa diri ini tak ingin melepaskan mimpi yang tadi sempat hampir tak berhenti, kembali kudekati lubang pusaran imaji.
Kuat ia menghisap tubuh ini, menghipnotis jiwa yang terlepas, aku terlelap lagi.
Kini aku telah ada dihamparan hijau permadani rumput alami. Kupandangi elok tiap lekuk indah tubuhmu, gemulai magis sudut-sudut tumpul pada dirimu.
Mentari jingga muncul dikedua tajam sorotan matamu, hangatkan jiwa yang hampir terlupakan.
Rona merah pipimu, warnai ruang-ruang hampa yang tak lagi bernyawa dalam rongga-rongga dada.
Puncak bukit hidungmu menakjubkan, seolah menekuk semua angan-angan yang tak ingin terhalangi.
Cekungan lembah surgawi, seakan gambaran dagumu yang mampu menopang senyum para peri-peri putri bidadari surgawi yang sedari tadi bercanda dengan dirimu.
Alunan tawa mereka merupakan refleksi nada-nada tinggi melodi kawasan firdaus. Ucapanmu kini malah semakin mengiringi harpa, menjadi rithym abadi disepenjuru sisi.
Lagi-lagi aku terbuai, tak mampu menggerakkan kata-kata untuk melampiaskan semua rasa kagum yang tak lagi mampu terbendung. Sekarang, aku benar-benar memutuskan berhenti, bersumpah menepi disini, setelah sekian lama aku menjadi musafir mimpi.
Sore, 31 januari 2008
Kuat ia menghisap tubuh ini, menghipnotis jiwa yang terlepas, aku terlelap lagi.
Kini aku telah ada dihamparan hijau permadani rumput alami. Kupandangi elok tiap lekuk indah tubuhmu, gemulai magis sudut-sudut tumpul pada dirimu.
Mentari jingga muncul dikedua tajam sorotan matamu, hangatkan jiwa yang hampir terlupakan.
Rona merah pipimu, warnai ruang-ruang hampa yang tak lagi bernyawa dalam rongga-rongga dada.
Puncak bukit hidungmu menakjubkan, seolah menekuk semua angan-angan yang tak ingin terhalangi.
Cekungan lembah surgawi, seakan gambaran dagumu yang mampu menopang senyum para peri-peri putri bidadari surgawi yang sedari tadi bercanda dengan dirimu.
Alunan tawa mereka merupakan refleksi nada-nada tinggi melodi kawasan firdaus. Ucapanmu kini malah semakin mengiringi harpa, menjadi rithym abadi disepenjuru sisi.
Lagi-lagi aku terbuai, tak mampu menggerakkan kata-kata untuk melampiaskan semua rasa kagum yang tak lagi mampu terbendung. Sekarang, aku benar-benar memutuskan berhenti, bersumpah menepi disini, setelah sekian lama aku menjadi musafir mimpi.
Sore, 31 januari 2008
The last test
Rasanya aku sudah cukup cepat berlari mengejar ketertinggalanku, tapi gerbang tetap saja tertutup dan membuatku terlambat.
“Sial,dasar bel sialan !!” gumamku dalam hati. Dengan cepat kucari panitia ujian agar mendapatkan izin masuk.Keringat tak kulayan saat kubuka lembar soal bersama pensil 2B terjepit disela-sela jari tangan kananku.Setelah izin masuk kuletakkan diatas meja pengawas tentunya.
Waktu tinggal 90 menit dari 120 menit yang disediakan.Ini gara-gara aku tidur kemalaman setelah menciptakan sesuatu tadi malam. Semua yang ada di otakku seakan lenyap dari memori internal made in Tuhan-ku ini.Kucoba cari dan mengingat apa password-nya,agar ingatan tersebut dapat muncul.Tapi aku rasa sia-sia.
Hanya tersisa 25 menit, dan baru 13 soal yang bisa aku kerjakan.Kucari alternatif lain.Kulirik sepasang pengawas didepan, kurogoh saku celanaku. Bermaksud ingin mengambil memori eksternal yang kubuat semalam.Tapi tampaknya Tuhan tak bisa membiarkan umatnya berbuat curang.
Saat ini aku seakan berada sesaat dialam maya-yang pasti jimatku ketinggalan.
Tapi aku belum mau menyerah, aku masih punya alternatif lain. Kucolek bahu orang depan, kukirim sinyal SOS lewat secarik sobekan dari kertas buram yang kupunya. Tak lama memang untuk menunggu bantuannya. Perlahan kubuka, “Lumayan” kataku pelan.
Kini separuh soalku telah terisi.Kembali kucoba kirimkan sinyal SOS, tapi kali ini dengan isyarat suara tanpa nada dan bunyi. Tentunya keorang disampingku.
Dengan cara yang sama akhirnya semua soal telah terjawab. Namun itu semua harus kutebus dengan denda yang terpaksa kubayar tunai lewat paraf di “Daftar Berita Acara Ujian” sang pengawas.
Saat aku baru selangkah keluar dari pintu kelasku, tiba-tiba bel berkumpul berbunyi.
Dengan perasaan aneh akupun berlari menuju ke lapangan tengah sekolahku. Disana kudapati Pak Kepsek tengah berdiri dihadapan para siswa seluruh kelas XII. Belum sempat aku membaur bersama teman yang kukenal, secara mengejutkan_ bagai sihir, sebuah amplop putih bertuliskan namaku di bagian wajahnya muncul tepat dihadapanku. Sekilas kulihat banyak teman-temanku yang tak jelas bersorak gembira dan ada beberapa yang pingsan serta menangis. Aku masih bingung dengan apa yang kini sedang terjadi. Perlahan aku mulai mengerti, kalau saat ini aku sedang berada diacara spektakuler selama 3 tahun aku belajar disekolah ini. Pengumuman kelulusan!!!
Dengan cepat kusobek amplopku. Kubuka lipatan surat yang ada didalamnya.
Menggunakan teknik membaca cepat ala guru Bahasa Indonesia-ku, kucari kata atau kalimat utamanya. Kata tersebut kudapati dicetak tebal_ dan terbaca olehku
‘’TIDAK LULUS’’
Kembali suasana disekitarku serasa berubah. Kali ini aku berada di gudang rumahku. Lalu perlahan mulai terdengar suara ibuku seperti jet tempur Israel yang sedang membombardir Lebanon_ memaki ,memarahi dan menyalahi aku.
Entah apa yang sedang kupikirkan, saat kuraih sebuah botol berwarna hijau bertuliskan “ Racun Seranga”. Mungkin aku berpikir bahwa kami juga bisa disebut serangga, “The King Of Insect” tentunya. Dengan semangat, kutengak habis cairan tersebut. Rasanya sangat variatif. Manis, asam, asin kalau boleh kugambarkan.
Lalu keanehan mulai kembali terjadi. Suara yang kukeluarkan saat berteriak kesakitan menjelang sakratul maut bukannya suara yang biasanya kudengar diserial-serial relijius televisi, tetapi terdengar olehku seperti suara alarm jam yang ada di kamarku.
KRIII……NG !!!!
Dengan terkejut plus sedikit tersentak, mataku terbuka lebar. Seakan tak percaya kini aku ada diatas kasur tempat tidurku yang berantakan kaya’ kapal pecah dengan piyama lusuhku. Saat ini pukul 07.35, bunyi weker-ku berhenti_seolah bosan dan muak denganku yang tak kunjung sadar. “Mimpi yang aneh” kataku mencoba melucu menghibur diri sendiri seolah berpura-pura tetap santai.
Namun tubuhku memang tak mampu untuk tidak bergetar gugup menutupi kegelisahanku dan ketakutanku. Bagaimana tidak, karena kini mimpiku tadi bagiku mulai perlahan terlihat menjadi kenyataan.
“Sial,dasar bel sialan !!” gumamku dalam hati. Dengan cepat kucari panitia ujian agar mendapatkan izin masuk.Keringat tak kulayan saat kubuka lembar soal bersama pensil 2B terjepit disela-sela jari tangan kananku.Setelah izin masuk kuletakkan diatas meja pengawas tentunya.
Waktu tinggal 90 menit dari 120 menit yang disediakan.Ini gara-gara aku tidur kemalaman setelah menciptakan sesuatu tadi malam. Semua yang ada di otakku seakan lenyap dari memori internal made in Tuhan-ku ini.Kucoba cari dan mengingat apa password-nya,agar ingatan tersebut dapat muncul.Tapi aku rasa sia-sia.
Hanya tersisa 25 menit, dan baru 13 soal yang bisa aku kerjakan.Kucari alternatif lain.Kulirik sepasang pengawas didepan, kurogoh saku celanaku. Bermaksud ingin mengambil memori eksternal yang kubuat semalam.Tapi tampaknya Tuhan tak bisa membiarkan umatnya berbuat curang.
Saat ini aku seakan berada sesaat dialam maya-yang pasti jimatku ketinggalan.
Tapi aku belum mau menyerah, aku masih punya alternatif lain. Kucolek bahu orang depan, kukirim sinyal SOS lewat secarik sobekan dari kertas buram yang kupunya. Tak lama memang untuk menunggu bantuannya. Perlahan kubuka, “Lumayan” kataku pelan.
Kini separuh soalku telah terisi.Kembali kucoba kirimkan sinyal SOS, tapi kali ini dengan isyarat suara tanpa nada dan bunyi. Tentunya keorang disampingku.
Dengan cara yang sama akhirnya semua soal telah terjawab. Namun itu semua harus kutebus dengan denda yang terpaksa kubayar tunai lewat paraf di “Daftar Berita Acara Ujian” sang pengawas.
Saat aku baru selangkah keluar dari pintu kelasku, tiba-tiba bel berkumpul berbunyi.
Dengan perasaan aneh akupun berlari menuju ke lapangan tengah sekolahku. Disana kudapati Pak Kepsek tengah berdiri dihadapan para siswa seluruh kelas XII. Belum sempat aku membaur bersama teman yang kukenal, secara mengejutkan_ bagai sihir, sebuah amplop putih bertuliskan namaku di bagian wajahnya muncul tepat dihadapanku. Sekilas kulihat banyak teman-temanku yang tak jelas bersorak gembira dan ada beberapa yang pingsan serta menangis. Aku masih bingung dengan apa yang kini sedang terjadi. Perlahan aku mulai mengerti, kalau saat ini aku sedang berada diacara spektakuler selama 3 tahun aku belajar disekolah ini. Pengumuman kelulusan!!!
Dengan cepat kusobek amplopku. Kubuka lipatan surat yang ada didalamnya.
Menggunakan teknik membaca cepat ala guru Bahasa Indonesia-ku, kucari kata atau kalimat utamanya. Kata tersebut kudapati dicetak tebal_ dan terbaca olehku
‘’TIDAK LULUS’’
Kembali suasana disekitarku serasa berubah. Kali ini aku berada di gudang rumahku. Lalu perlahan mulai terdengar suara ibuku seperti jet tempur Israel yang sedang membombardir Lebanon_ memaki ,memarahi dan menyalahi aku.
Entah apa yang sedang kupikirkan, saat kuraih sebuah botol berwarna hijau bertuliskan “ Racun Seranga”. Mungkin aku berpikir bahwa kami juga bisa disebut serangga, “The King Of Insect” tentunya. Dengan semangat, kutengak habis cairan tersebut. Rasanya sangat variatif. Manis, asam, asin kalau boleh kugambarkan.
Lalu keanehan mulai kembali terjadi. Suara yang kukeluarkan saat berteriak kesakitan menjelang sakratul maut bukannya suara yang biasanya kudengar diserial-serial relijius televisi, tetapi terdengar olehku seperti suara alarm jam yang ada di kamarku.
KRIII……NG !!!!
Dengan terkejut plus sedikit tersentak, mataku terbuka lebar. Seakan tak percaya kini aku ada diatas kasur tempat tidurku yang berantakan kaya’ kapal pecah dengan piyama lusuhku. Saat ini pukul 07.35, bunyi weker-ku berhenti_seolah bosan dan muak denganku yang tak kunjung sadar. “Mimpi yang aneh” kataku mencoba melucu menghibur diri sendiri seolah berpura-pura tetap santai.
Namun tubuhku memang tak mampu untuk tidak bergetar gugup menutupi kegelisahanku dan ketakutanku. Bagaimana tidak, karena kini mimpiku tadi bagiku mulai perlahan terlihat menjadi kenyataan.
Chominga
Hari ini adalah hari senin, hari pertama aku masuk sekolah dan mungkin merupakan hari paling berkesan seumur hidupku. Dimulai dengan adegan kesiangan, hingga tak sempat mandi apalagi sarapan. Kuberlari disepanjang tepi trotoar dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang tak karuan_beruntung aku sempat pakai sepatu beserta kaus kaki putihnya. Sang langit seolah mendung cemberut menatapku hingga suasana gelap yang dominan menyelimuti pagi ini.
Karena aku orang yang baru pindah dikota ini, akupun tak menghiraukan papan tulisan ‘’Awas Anjing Galak’’ menghadang ditepi jalan. Aku terus berlari menuju sekolahku yang berada 100 meter didepan hidung. Kini tinggal 80, 60, 30 meter. Namun, dilangkah yang menghantarkanku kebelasan meter kearah tujuanku, kurasakan sesuatu terinjak olehku. Lembut, lunak, berbulu serta mengeluarkan suara yang sangat tak ingin kudengar. Kini ketika Sang Herder menggeram dan menutup jalanku, aku berbalik dan berlari sprint ala guru olahraga.
100m, 200m, 300m, masih dapat kuatasi kecepatan Sang Herder tersebut. Tapi kemudian kupanjat tiang telepon disisi kiri jalan untuk menghindari rahang keras dislimuti air liur menetes menjijikkan yang seolah dengan liar mengincar bagian terbelah dibelakangku. Sudah dapat dipastikan aku telat hari ini.
Setelah Sang Herder tampaknya bosan denganku yang bermain curang, iapun meninggalkuan tubuhku menempel ditiang. Merasa situasi aman terkendali, dengan waspada kuberanjak merosot turun. Tapi tampaknya Sang Herder telah memasang jebakan paling kurang ajar. Sebuah kotoran besar teronggok berwarna hijau tua telah terinjak olehku. Menempel dikedua sepatuku, belepotan dan sangat menjijikkan. Yaiks… rasanya ingin kuberlari, bukan karna malu, tapi ingin segera mencari WC terdekat, membungkus kotoran yang bau untuk kumasukkan kemulut anjing tersebut. Biar tau dia rasanya kotoran manusia.
Yah, biarlah. Toh semuanya telah terjadi. Yang penting segera mencari air. Sesaat aku terpana dengan sebuah parit lebar dengan air yang lumayan bersih. Pucuk dicinta, ulampun tiba. Kudekati genangan air tersebut, kujulurkan kaki kiriku sambil menggoyang-goyang tapak sepatuku biar bersih. Tiba-tiba, bagai petir disiang bolong, menyambar tepat dibelakang bokong, aku diserempet pedagang bakso kaki 5__3 kaki punya gerobak, 2nya lagi punya yang jual. Ia menyerempet dan membuatku menenggelamkan kaki hingga ke paha. Refleks kupanjat parit tersebut. Kucari pedagang sialan tadi. Tampaknya ia sudah lari tunggang langgang kaya’ jaelangkung_datang tak dijemput, pulang tak diantar. Kali ini aku benar-benar berlari, biar cepet nyampe dirumah. Tapi ternyata penderitaanku ternyata belum berkesudahan. Pas melewati perkampungan, aku melintasi sekumpulan anak-anak sedang bermain dilapangan coklat tak berumput. Seperti digerakkan sesuatu, seluruh anak-anak itu langsung berlari mengejar dan mendekatiku. Pertama kupikir, mereka jarang ngeliat abang ganteng.
Namun ke-ge-er-an ku sirna bila kudengar sayup-sayup teriakan
“orang-gila…orang-gila…!” Busyet, aku disangkain orang gila ama anak-anak kecil.
“Woi..brisik!!” aku berbalik sambil membentak. Eh, bukannya diem, anak-anak tersebut malah makin kenceng teriakannya. Apalagi anak yang badannya subur.
“N’dut, gue tiup perut loe biar meledak, baru tau rasa ya!!” gertakku
“Emang perut gue ban, bisa meledak?!” Ketusnya sambil tetep diiringi kor bareng teriakan temen-temennya.
Merasa ng’gak mempan ama cara kasar, kali ini kucoba cara yang lebih lunak.
“Eh, kakak bukan orang gila. Kakak cuman mau numpang lewat aja kok” kali ini bocah kerempeng yang menyahut.
“Kalo ng’gak gila, trus ngapain kakak main air selokan?!!”
Emosiku langsung meledak kaya’ bom atom.
“Apa loe bilang?!!” Kataku sambil mengangkat bocah keong tersebut dan menggoncang-goncangkannya diudara.
“K..K…Kakak, anjing gila!! Eh… kakak gila babi!! M..Maksud saya kakak ng’gak beneran gila kok, cuman gila boongan” Katanya dengan wajah tanpa dosa.
Kuturunkan bocah kurus tersebut, lalu kujewer telinganya hingga menjerit kesakitan. Merasa cukup puas, kutinggalkan anak itu yang kini menangis. Tanpa kusadari, seorang pria keluar dari salah satu rumah sambil memamerkan dadanya yang berbulu lebat. Akupun kembali melanjutkan marathon yang sempat tadi terhenti. Bukan karena dadanya yang berbulu, namun karena parang berkilat diujung tangannya yang menandakan ketajamannya yang ia pamerkan kepadaku.
Selamat aku berhasil lolos dari maut, untung udah lumayan jauh aku berjalan baru tuh orang mengejar. Kalo ng’gak, aku tadi bisa jadi tokoh utama tragedi berjudul “Peristiwa Berdarah Siswa SMA Kar’na Parang dan Bulu Dada”
Dengan celana basah dan bau serta ditemani butiran-butiran keringat diseluruh tubuh, kulanjutkan ekspedisi pulang kerumah. Merasa kesialan terus yang sedari tadi mencumbuiku, akupun makin waspada. Tekadku yang ingin Back To Home pun makin membulat. Takkan melonjong ataupun mengempis meski badai meniup maupun menggencet sekalipun.
Namun baru beberapa meter aku melangkah, kulihat gadis manis yang kerepotan kar’na kantong plastik belanjaannya sobek. Otomatis isinyapun berhamburan jatuh diatas trotoar. Sejenak niatku tergoyahkan.
“Ah, ada jutaan orang dijalur trotoar ini kok. Masa’ gak ada orang yang mau tulungin tuh cewek” Bisik rohku.
Dengan wajah cuek_secuek-cueknya, kulewati gadis tersebut tanpa menoleh secuilpun. Saat itu aku ngerasa bangga banget ama diri sendiri, kar’na sebagai lelaki, ngejaga komitmen itu sangatlah sulit. Gak semua cowok bisa, MERDEKA!!!
Sedetik kemudian aku baru ngerasa, ternyata ada lebih dari jutaan orang yang ada disitu. Pasalnya, waktu aku bicara pada diri sendiri, ternyata didepan keningku telah ada tiang lampu jalan yang berdiri tegak menghadang. Kontan suara benturan keras jidatkupun mengaung perih diikuti oleh paduan suara yang kuyakin antara milyaran hingga trilyunan orang kini sedang menertawakanku.
Tiga kali, nyut, nyut, nyut dikepalaku langsung membutku berdiri dan seketika berlari kesetenan. Mungkin setan tercepat sekalipun dapat kupecundangi saat itu. Mulai dari sepeda, motor, bajaj, minibus, taxi, hingga bus tingkat dua kupotong tanpa perlawanan.
Hanya mata merah menyala bundar ditemani dua mata lainnya menjadi saksi saat itu ketika aku menyeberangi zebracross untuk berpindah jalur jalan melewati persimpangan.
“Tuh tiang ngapaen lagi pake nongol didepan jidat gue?!!” Kumulai sumpah serapah 13 yang kupersembahkan pada tiang terkutuk tadi.
Sekarang langkahku mulai sedikit nyaman, diikuti bayangan coklat tubuhku yang seolah terpanggang oleh panasnya sorotan mata Sang pusat bodongnya tatasurya. Aku tak ambil pusing lagi dengan situasai sekeliling. Aku juga makin kehilangan konsentrasi disebabkan dehidrasi. Untung cuman cairan yang menguap, kalo ng’gak aku pasti udah ikutan melayang mengambang diudara kar’na kehilangan massa jenis tubuhku.
Pelan-pelan aku melihat sebuah tas terduduk ditepi jalan disamping 2 buah tong sampah gemuk. Ku_kucek-kucek kedua mataku yang seolah berkabut “Emang tas kok itu” Kataku dalam hati meyakinkan diri sendiri. Seperti dituntun bidadari pengisi surga, akupun meraih tas tersebut dan berniat mengantarkannya ke pos penjagaan yang ada didepan, dekat persimpangan ini. Lagi-;agi keapesanku mulai kumat, ternyata ini tas punya-nya Tong Sampah, tapi aku salah liat. Sebenernya itu tong sampah adalah ibu-ibu gemuk berbaju seksi sedang duduk mengikat tali sepatu miliknya. Kontan ia teriak-teriak
“RAMPOK!!!” Sambil menunjuk kearahku. Semua makhluk kota, mulai dari semut ampe kakek-kakek pun pasti pasang wajah beringas bila mendengar kata tersebut. Merasa terancam bahaya yang paling berbahaya dihari ini, akupun cepat-cepat berlari. Niatnya sih ke pos penjagaan. Namun aku udah keburu kesandung lubangnya mulut jalanan yang memamerkan keompongannya. Akupun berguling kedepan, nungging, nuncep, nangkring sebentar dipinggir got buat ambil oksigen, trus meluncur kesisi tembok, nemplok kaya’ telor ceplok dan terlenteng pingsan sambil tiduran.
Entah apa yang kemudian terjadi, mungkin aku digebukin ampe ¼ mati, lalu dibakar ampe ½ mateng, trus dibagiin kaya’ daging kurban ama kucing-kucing liar. Atau mungkin aku ditelanjangin lalu diarak keliling pasar sambil diiringin musik tradisional kaya’ anak sunatan. Tapi kalo sunat “itu” nya yang dipotong, kalo aku udah pasti nih leher yang bakalan digorok ampe putus.
Bahkan mungkin yang paling ekstrim dan tak ingin aku bayangin adalah aku akan dikelitikin ampe mampus-pus-pus meong, oleh warga sekampung. Bayangin aja sengsaranya digelitikin ampe ko’it, makan waktu berapa lama tuh?
Tapi waktu aku buka mata, yang ku lihat banyak asap putih, aku lalu duduk. Pengen banget rasanya aku teriak ketakutan. Soalnya aku sekarang ada dalam ruangan sempit dengan tembok di tiga sisinya dan sebuah terali besi disisi lainnya yang didalemnya berisi pria-pria kekar bertato tak berbaju sedang menghisap rokok. Aku kira mereka adalah para malaikat-malaikat neraka yang agak gaul yang akan menyiksaku, tak taunya aku ada didalam sel tahanan kepolisian karena dituduh mengambil tas orang lain dan akan menjalani pemeriksaan beberapa hari.
”Hei cacing…Cepat kau pijat badanku!!!” Bentak seorang tahanan yang berkumis batak, maksudku logatnya.
“I…iya bang” Jawabku takut.
“Cepat ya, abis itu aku !!!” Sahut temennya.
Huhuhu…ingin rasanya nangis sambil pipis dicelana, soalnya WC disini bau. Belon lagi jatah makanannya yang ng’gak berprikemanusiaan, hanya masuk ketegori berpri-kelaperan. Jadi kalo laper banget, kepaksa deh baru aku makan.
Selama sehari, kulewati jadi tukang pijit orang-orang yang ada disitu, udah kaya’ pembantu disuruh inilah itulah. Baru pas sorenya aku dinyatakan tak bersalah kar’na terbukti tak sengaja mengambil tas dan ibu tersebut juga udah memaafkanku dan mencabut laporannya.
Akhirnya aku keluar dari kantor polisi dengan mata merah lebam kurang tidur, lemah kurang makan, letih kecapean, lesu kurang gizi, lunglai kaya’ tauge direbus, dan loyo tak bersemangat. Semoga kali ini aku bisa selamat sampe kerumah. Do’ain aku ya?!! Please….:-)
29 juli 2007
Karena aku orang yang baru pindah dikota ini, akupun tak menghiraukan papan tulisan ‘’Awas Anjing Galak’’ menghadang ditepi jalan. Aku terus berlari menuju sekolahku yang berada 100 meter didepan hidung. Kini tinggal 80, 60, 30 meter. Namun, dilangkah yang menghantarkanku kebelasan meter kearah tujuanku, kurasakan sesuatu terinjak olehku. Lembut, lunak, berbulu serta mengeluarkan suara yang sangat tak ingin kudengar. Kini ketika Sang Herder menggeram dan menutup jalanku, aku berbalik dan berlari sprint ala guru olahraga.
100m, 200m, 300m, masih dapat kuatasi kecepatan Sang Herder tersebut. Tapi kemudian kupanjat tiang telepon disisi kiri jalan untuk menghindari rahang keras dislimuti air liur menetes menjijikkan yang seolah dengan liar mengincar bagian terbelah dibelakangku. Sudah dapat dipastikan aku telat hari ini.
Setelah Sang Herder tampaknya bosan denganku yang bermain curang, iapun meninggalkuan tubuhku menempel ditiang. Merasa situasi aman terkendali, dengan waspada kuberanjak merosot turun. Tapi tampaknya Sang Herder telah memasang jebakan paling kurang ajar. Sebuah kotoran besar teronggok berwarna hijau tua telah terinjak olehku. Menempel dikedua sepatuku, belepotan dan sangat menjijikkan. Yaiks… rasanya ingin kuberlari, bukan karna malu, tapi ingin segera mencari WC terdekat, membungkus kotoran yang bau untuk kumasukkan kemulut anjing tersebut. Biar tau dia rasanya kotoran manusia.
Yah, biarlah. Toh semuanya telah terjadi. Yang penting segera mencari air. Sesaat aku terpana dengan sebuah parit lebar dengan air yang lumayan bersih. Pucuk dicinta, ulampun tiba. Kudekati genangan air tersebut, kujulurkan kaki kiriku sambil menggoyang-goyang tapak sepatuku biar bersih. Tiba-tiba, bagai petir disiang bolong, menyambar tepat dibelakang bokong, aku diserempet pedagang bakso kaki 5__3 kaki punya gerobak, 2nya lagi punya yang jual. Ia menyerempet dan membuatku menenggelamkan kaki hingga ke paha. Refleks kupanjat parit tersebut. Kucari pedagang sialan tadi. Tampaknya ia sudah lari tunggang langgang kaya’ jaelangkung_datang tak dijemput, pulang tak diantar. Kali ini aku benar-benar berlari, biar cepet nyampe dirumah. Tapi ternyata penderitaanku ternyata belum berkesudahan. Pas melewati perkampungan, aku melintasi sekumpulan anak-anak sedang bermain dilapangan coklat tak berumput. Seperti digerakkan sesuatu, seluruh anak-anak itu langsung berlari mengejar dan mendekatiku. Pertama kupikir, mereka jarang ngeliat abang ganteng.
Namun ke-ge-er-an ku sirna bila kudengar sayup-sayup teriakan
“orang-gila…orang-gila…!” Busyet, aku disangkain orang gila ama anak-anak kecil.
“Woi..brisik!!” aku berbalik sambil membentak. Eh, bukannya diem, anak-anak tersebut malah makin kenceng teriakannya. Apalagi anak yang badannya subur.
“N’dut, gue tiup perut loe biar meledak, baru tau rasa ya!!” gertakku
“Emang perut gue ban, bisa meledak?!” Ketusnya sambil tetep diiringi kor bareng teriakan temen-temennya.
Merasa ng’gak mempan ama cara kasar, kali ini kucoba cara yang lebih lunak.
“Eh, kakak bukan orang gila. Kakak cuman mau numpang lewat aja kok” kali ini bocah kerempeng yang menyahut.
“Kalo ng’gak gila, trus ngapain kakak main air selokan?!!”
Emosiku langsung meledak kaya’ bom atom.
“Apa loe bilang?!!” Kataku sambil mengangkat bocah keong tersebut dan menggoncang-goncangkannya diudara.
“K..K…Kakak, anjing gila!! Eh… kakak gila babi!! M..Maksud saya kakak ng’gak beneran gila kok, cuman gila boongan” Katanya dengan wajah tanpa dosa.
Kuturunkan bocah kurus tersebut, lalu kujewer telinganya hingga menjerit kesakitan. Merasa cukup puas, kutinggalkan anak itu yang kini menangis. Tanpa kusadari, seorang pria keluar dari salah satu rumah sambil memamerkan dadanya yang berbulu lebat. Akupun kembali melanjutkan marathon yang sempat tadi terhenti. Bukan karena dadanya yang berbulu, namun karena parang berkilat diujung tangannya yang menandakan ketajamannya yang ia pamerkan kepadaku.
Selamat aku berhasil lolos dari maut, untung udah lumayan jauh aku berjalan baru tuh orang mengejar. Kalo ng’gak, aku tadi bisa jadi tokoh utama tragedi berjudul “Peristiwa Berdarah Siswa SMA Kar’na Parang dan Bulu Dada”
Dengan celana basah dan bau serta ditemani butiran-butiran keringat diseluruh tubuh, kulanjutkan ekspedisi pulang kerumah. Merasa kesialan terus yang sedari tadi mencumbuiku, akupun makin waspada. Tekadku yang ingin Back To Home pun makin membulat. Takkan melonjong ataupun mengempis meski badai meniup maupun menggencet sekalipun.
Namun baru beberapa meter aku melangkah, kulihat gadis manis yang kerepotan kar’na kantong plastik belanjaannya sobek. Otomatis isinyapun berhamburan jatuh diatas trotoar. Sejenak niatku tergoyahkan.
“Ah, ada jutaan orang dijalur trotoar ini kok. Masa’ gak ada orang yang mau tulungin tuh cewek” Bisik rohku.
Dengan wajah cuek_secuek-cueknya, kulewati gadis tersebut tanpa menoleh secuilpun. Saat itu aku ngerasa bangga banget ama diri sendiri, kar’na sebagai lelaki, ngejaga komitmen itu sangatlah sulit. Gak semua cowok bisa, MERDEKA!!!
Sedetik kemudian aku baru ngerasa, ternyata ada lebih dari jutaan orang yang ada disitu. Pasalnya, waktu aku bicara pada diri sendiri, ternyata didepan keningku telah ada tiang lampu jalan yang berdiri tegak menghadang. Kontan suara benturan keras jidatkupun mengaung perih diikuti oleh paduan suara yang kuyakin antara milyaran hingga trilyunan orang kini sedang menertawakanku.
Tiga kali, nyut, nyut, nyut dikepalaku langsung membutku berdiri dan seketika berlari kesetenan. Mungkin setan tercepat sekalipun dapat kupecundangi saat itu. Mulai dari sepeda, motor, bajaj, minibus, taxi, hingga bus tingkat dua kupotong tanpa perlawanan.
Hanya mata merah menyala bundar ditemani dua mata lainnya menjadi saksi saat itu ketika aku menyeberangi zebracross untuk berpindah jalur jalan melewati persimpangan.
“Tuh tiang ngapaen lagi pake nongol didepan jidat gue?!!” Kumulai sumpah serapah 13 yang kupersembahkan pada tiang terkutuk tadi.
Sekarang langkahku mulai sedikit nyaman, diikuti bayangan coklat tubuhku yang seolah terpanggang oleh panasnya sorotan mata Sang pusat bodongnya tatasurya. Aku tak ambil pusing lagi dengan situasai sekeliling. Aku juga makin kehilangan konsentrasi disebabkan dehidrasi. Untung cuman cairan yang menguap, kalo ng’gak aku pasti udah ikutan melayang mengambang diudara kar’na kehilangan massa jenis tubuhku.
Pelan-pelan aku melihat sebuah tas terduduk ditepi jalan disamping 2 buah tong sampah gemuk. Ku_kucek-kucek kedua mataku yang seolah berkabut “Emang tas kok itu” Kataku dalam hati meyakinkan diri sendiri. Seperti dituntun bidadari pengisi surga, akupun meraih tas tersebut dan berniat mengantarkannya ke pos penjagaan yang ada didepan, dekat persimpangan ini. Lagi-;agi keapesanku mulai kumat, ternyata ini tas punya-nya Tong Sampah, tapi aku salah liat. Sebenernya itu tong sampah adalah ibu-ibu gemuk berbaju seksi sedang duduk mengikat tali sepatu miliknya. Kontan ia teriak-teriak
“RAMPOK!!!” Sambil menunjuk kearahku. Semua makhluk kota, mulai dari semut ampe kakek-kakek pun pasti pasang wajah beringas bila mendengar kata tersebut. Merasa terancam bahaya yang paling berbahaya dihari ini, akupun cepat-cepat berlari. Niatnya sih ke pos penjagaan. Namun aku udah keburu kesandung lubangnya mulut jalanan yang memamerkan keompongannya. Akupun berguling kedepan, nungging, nuncep, nangkring sebentar dipinggir got buat ambil oksigen, trus meluncur kesisi tembok, nemplok kaya’ telor ceplok dan terlenteng pingsan sambil tiduran.
Entah apa yang kemudian terjadi, mungkin aku digebukin ampe ¼ mati, lalu dibakar ampe ½ mateng, trus dibagiin kaya’ daging kurban ama kucing-kucing liar. Atau mungkin aku ditelanjangin lalu diarak keliling pasar sambil diiringin musik tradisional kaya’ anak sunatan. Tapi kalo sunat “itu” nya yang dipotong, kalo aku udah pasti nih leher yang bakalan digorok ampe putus.
Bahkan mungkin yang paling ekstrim dan tak ingin aku bayangin adalah aku akan dikelitikin ampe mampus-pus-pus meong, oleh warga sekampung. Bayangin aja sengsaranya digelitikin ampe ko’it, makan waktu berapa lama tuh?
Tapi waktu aku buka mata, yang ku lihat banyak asap putih, aku lalu duduk. Pengen banget rasanya aku teriak ketakutan. Soalnya aku sekarang ada dalam ruangan sempit dengan tembok di tiga sisinya dan sebuah terali besi disisi lainnya yang didalemnya berisi pria-pria kekar bertato tak berbaju sedang menghisap rokok. Aku kira mereka adalah para malaikat-malaikat neraka yang agak gaul yang akan menyiksaku, tak taunya aku ada didalam sel tahanan kepolisian karena dituduh mengambil tas orang lain dan akan menjalani pemeriksaan beberapa hari.
”Hei cacing…Cepat kau pijat badanku!!!” Bentak seorang tahanan yang berkumis batak, maksudku logatnya.
“I…iya bang” Jawabku takut.
“Cepat ya, abis itu aku !!!” Sahut temennya.
Huhuhu…ingin rasanya nangis sambil pipis dicelana, soalnya WC disini bau. Belon lagi jatah makanannya yang ng’gak berprikemanusiaan, hanya masuk ketegori berpri-kelaperan. Jadi kalo laper banget, kepaksa deh baru aku makan.
Selama sehari, kulewati jadi tukang pijit orang-orang yang ada disitu, udah kaya’ pembantu disuruh inilah itulah. Baru pas sorenya aku dinyatakan tak bersalah kar’na terbukti tak sengaja mengambil tas dan ibu tersebut juga udah memaafkanku dan mencabut laporannya.
Akhirnya aku keluar dari kantor polisi dengan mata merah lebam kurang tidur, lemah kurang makan, letih kecapean, lesu kurang gizi, lunglai kaya’ tauge direbus, dan loyo tak bersemangat. Semoga kali ini aku bisa selamat sampe kerumah. Do’ain aku ya?!! Please….:-)
29 juli 2007
Taman makam kota
Biasanya weker yang menggugahku dari tidur, tapi entah kenapa subuh ini tepat pukul empat aku terjaga. Aku duduk dibibir ranjang kusut tak karuan, aku lalu berdiri menjulurkan tangan kanan keatas meraih tali lampu mengganti nyala bohlam dengan neon 15 watt. Silau memang, tapi aku senang kar’na membantuku membunuh kantuk yang masih bergelayutan dikelopak mata. 20 menit lewat begitu saja, setelah benar-benar sadar, akupun keluar kekamar mandi. Dinginnya air menyegarkan tubuh dan jiwaku. Aku kembali kekamar, menutup pintu dan berniat melakukan pemanasan sebelum berolah raga. Pemanasanku terhenti saat alunan adzan subuh menembus masuk ketelingaku. Selesai sholat, aku bersiap untuk lari pagi mengitari jalan raya didekat rumahku. Tepat 05.25 aku keluar rumah, kuhirup udara yang berhembus membawa embun lembut yang sedikit terasa lembab. Kubuka pintu gerbang dan mulai lari-lari kecil menyusuri lajur jalan yang lurus kedepan.
Beberapa menit kulalui dengan cahaya temaram dari lampu-lampu teras rumah ditepi jalan. Mulai dari kompleks perumahan, kemudian sebuah sekolah dan disusul simpang tiga yang telah tampak di kejauhan. Aku memutuskan ‘tuk kekiri. Kulewati gereja dan masjid yang berjarak kurang dari puluhan meter. Aku langsung bersyukur kar’na didaerahku ini masih aman dari perang antar agama yang sering kulihat di tv. Nafasku kini mulai berantakan, kuperlambat lariku namun berusaha agar tak berhenti. Kuatur lagi nafasku dengan cara dua langkah ber-inspirasi, dan dua langkah ber-ekspirasi.
Kini aku melawati deretan ruko-ruko baru dibangun yang dihalamannya berkumpul para remaja duduk menikmati puing-puing waktu malam minggu semalam yang sayang ‘tuk dibuang. Lalu sebuah pom bensin disisi kananku_ yang seingatku biasanya dijaga sepasang anjing. Kupercepat lariku. Tapi ini bukan kar’na anjing, tapi ……-sebenarnya aku tak mau bilang, namun sebaiknya kalian harus tahu bahwa tepat dimuka pom bensin tersebut terdapat tempat pemakaman umum, mulai dari kuburan_ ups, aku kelepasan kata yang sebetulnya ‘tak ingin aku katakan. Tapi…… ya sudahlah, toh sudah terlanjur keluar.
Kembali kecerita kita, mulai dari kuburan Cina, Kristen, dan Islam ada disitu_ berbeda blok tentunya. Dikarenakan medannya agak sedikit menanjak, maka meskipun lariku kupercepat,tetap saja terasa lamban.
Kini aku mulai mendekati persimpangan. Pandanganku seolah terhipnotis oleh lampu penghias jalan yang tegak berdiri disisi kiri jalur jalanku. Tanpa sadar tiba-tiba dihadapanku seorang wanita muda tampak kesakitan terduduk ditepi jalan. Ia mengenakan kaos merah pudar dan mengenakan celana yang sangat kontras dengan warna sepatu miliknya.
Tanpa bertanya, kuangkat tubuhnya dan kududukkan dibibir bangku batu disebuah taman kota yang ada persis didekat lokasi tersebut.
“kenapa?,terkilir?,sakit?, enggak apa-apakan?“ tanyaku yang kebanyakan dijawab olehnya dengan gelengan kepala.
Selang beberapa saat, kami berdua malah jogging seolah melanjutkan perjalananku yang sempat sesaat tadi terhenti. Tak banyak kata yang terlontar diantara kami, malah bisa dibilang ‘tak ada. Ia tampaknya lebih senang memandang kedepan, sementara aku sendiri sesekali mencuri pandang ke wajahnya yang lumayan cantik.
Rasanya selama lari dengannya sedikitpun aku tidak merasa lelah, malah setiap langkah seolah membuatku semakin bergairah untuk terus tetap berlari.
Langkahku mulai berhenti saat ia menuju kearah jalan kecil yang belum beraspal. Aku saat itu hanya diam terpana disudut jalan menatap wanita tersebut berjalan lambat di kegelapan dan seolah samara-samar menghilang dari pandangan.
Aku sangat terkejut ketika sebuah tepukan lembut di punggung menyadarkanku. Aku tak kenal siapa dia. Merasa hanya perbuatan iseng dari sesama penikmat udara pagi, akupun bergegas pulang.
Sampai dirumah, kuraih Koran pagi yang tergeletak diatas meja tamanku. Halaman pertama terpampang gambar yang menurutku sesosok mayat dengan posisi tergeletek tidak wajar. Dibawah gambar tersebut tertulis :
“Ditemukan, seorang gadis diduga korban tabrak lari di persimpangan jalan didepan taman kota. Korban mengenakan kaos putih yang telah banyak berlumuran darah”
Sampai disitu aku tidak ingat apa-apa lagi_ yang aku tahu aku sudah terbaring ditempat tidur dengan tubuh menggigil.Tapi ada satu hal yang baru aku ingat. Ternyata, jalan dimana aku berpisah dengan wanita misterius tersebut adalah jalan pintas menuju kekawasan pemakaman umum. Menurutku mungkin ia kebingungan dalam mencari jalan menuju
Beberapa menit kulalui dengan cahaya temaram dari lampu-lampu teras rumah ditepi jalan. Mulai dari kompleks perumahan, kemudian sebuah sekolah dan disusul simpang tiga yang telah tampak di kejauhan. Aku memutuskan ‘tuk kekiri. Kulewati gereja dan masjid yang berjarak kurang dari puluhan meter. Aku langsung bersyukur kar’na didaerahku ini masih aman dari perang antar agama yang sering kulihat di tv. Nafasku kini mulai berantakan, kuperlambat lariku namun berusaha agar tak berhenti. Kuatur lagi nafasku dengan cara dua langkah ber-inspirasi, dan dua langkah ber-ekspirasi.
Kini aku melawati deretan ruko-ruko baru dibangun yang dihalamannya berkumpul para remaja duduk menikmati puing-puing waktu malam minggu semalam yang sayang ‘tuk dibuang. Lalu sebuah pom bensin disisi kananku_ yang seingatku biasanya dijaga sepasang anjing. Kupercepat lariku. Tapi ini bukan kar’na anjing, tapi ……-sebenarnya aku tak mau bilang, namun sebaiknya kalian harus tahu bahwa tepat dimuka pom bensin tersebut terdapat tempat pemakaman umum, mulai dari kuburan_ ups, aku kelepasan kata yang sebetulnya ‘tak ingin aku katakan. Tapi…… ya sudahlah, toh sudah terlanjur keluar.
Kembali kecerita kita, mulai dari kuburan Cina, Kristen, dan Islam ada disitu_ berbeda blok tentunya. Dikarenakan medannya agak sedikit menanjak, maka meskipun lariku kupercepat,tetap saja terasa lamban.
Kini aku mulai mendekati persimpangan. Pandanganku seolah terhipnotis oleh lampu penghias jalan yang tegak berdiri disisi kiri jalur jalanku. Tanpa sadar tiba-tiba dihadapanku seorang wanita muda tampak kesakitan terduduk ditepi jalan. Ia mengenakan kaos merah pudar dan mengenakan celana yang sangat kontras dengan warna sepatu miliknya.
Tanpa bertanya, kuangkat tubuhnya dan kududukkan dibibir bangku batu disebuah taman kota yang ada persis didekat lokasi tersebut.
“kenapa?,terkilir?,sakit?, enggak apa-apakan?“ tanyaku yang kebanyakan dijawab olehnya dengan gelengan kepala.
Selang beberapa saat, kami berdua malah jogging seolah melanjutkan perjalananku yang sempat sesaat tadi terhenti. Tak banyak kata yang terlontar diantara kami, malah bisa dibilang ‘tak ada. Ia tampaknya lebih senang memandang kedepan, sementara aku sendiri sesekali mencuri pandang ke wajahnya yang lumayan cantik.
Rasanya selama lari dengannya sedikitpun aku tidak merasa lelah, malah setiap langkah seolah membuatku semakin bergairah untuk terus tetap berlari.
Langkahku mulai berhenti saat ia menuju kearah jalan kecil yang belum beraspal. Aku saat itu hanya diam terpana disudut jalan menatap wanita tersebut berjalan lambat di kegelapan dan seolah samara-samar menghilang dari pandangan.
Aku sangat terkejut ketika sebuah tepukan lembut di punggung menyadarkanku. Aku tak kenal siapa dia. Merasa hanya perbuatan iseng dari sesama penikmat udara pagi, akupun bergegas pulang.
Sampai dirumah, kuraih Koran pagi yang tergeletak diatas meja tamanku. Halaman pertama terpampang gambar yang menurutku sesosok mayat dengan posisi tergeletek tidak wajar. Dibawah gambar tersebut tertulis :
“Ditemukan, seorang gadis diduga korban tabrak lari di persimpangan jalan didepan taman kota. Korban mengenakan kaos putih yang telah banyak berlumuran darah”
Sampai disitu aku tidak ingat apa-apa lagi_ yang aku tahu aku sudah terbaring ditempat tidur dengan tubuh menggigil.Tapi ada satu hal yang baru aku ingat. Ternyata, jalan dimana aku berpisah dengan wanita misterius tersebut adalah jalan pintas menuju kekawasan pemakaman umum. Menurutku mungkin ia kebingungan dalam mencari jalan menuju
Ego
Kupaksa tubuh ini ‘tuk bergerak,meski dengan keadaan setengah sadar. Entah jam berapa sekarang, yang pasti tempat jalanku terasa gelap. Sekarang aku hanya ingin pulang kerumah, tapi bukan ‘tuk makan_meski aku lapar, juga bukan ‘tuk minum_meski tenggorokanku kering. Aku hanya ingin tidur. Tidur melupakan segala permasalahan yang menghinggapiku seperti lalat-lalat kotor sedang menggerayangi sampah.
Aku masih berjalan perlahan meski gontai. Tadi aku hampir menabrak pohon, barusan aku juga nyaris tersungkur setelah tersandung batu.
Sebenarnya aku ingin menjalani hidupku seperti hari-hari sebelum aku merasa muak dengan hidupku yang sekarang. Aku seolah ‘tak punya ayah_setelah ia sering memukuliku hanya kar’na dimatanya aku salah. Aku juga merasa tak ber-ibu, sejak ia_wanita yang satu-satunya ada bersamaku mulai jarang ada dirumah. Pergi selepas maghrib dan pulang entah jam berapa.
Aku akhirnya sering melahap habis waktuku dengan teman-teman yang sebaya dan senasib denganku. Aku juga mulai belajar menyulut rokok diantara jemariku. Aku masih sangat ingat saat pertama kali menghirup asap tembakau, aku terbatuk-batuk. Batuk yang sangat berat dan sangat sakit, namun tetap kutelan asap tersebut. Menurutku rasa sakit yang dirasa tubuhku malah dapat meredam kesakitan dan amarah yang bergejolak didalam jiwaku.
Sejak saat itu akupun semakin terjerumus dalam sumur narkoba dan alkohol. Aku hanya punya teman yang dekat denganku hanya bila aku sedang punya uang. Itupun pasti setelah kujual barang-barang berharga milikku. Setelah puas menikmati barang haram tersebut, merekapun lantas perlahan beranjak meninggalkanku satu persatu. Akupun hanya bisa meraba-raba kegelapan malam menuju rumah.
Akupun kini mulai tak dapat mengendalikan pikiranku, aku merasa terbang, melayang, mendekap rumput-rumput hujau yang rimbun dan tumbuh subur dengan liarnya ditepi jalan dibibir semak-semak_setelah sesaat tadi nyaris seolah malaikat maut dengan cahayanya melaju menyerempet tubuhku kar’na meniti lunglai keluar ketengah jalan.
Sekali lagi kunikmati sisa waktu malam yang tak lagi panjang bagiku dengan ditemani gejolak hembusan nafas dan diiringi tarikan otot-otot diafragma tubuhku serta ditemani titik-titik embun menjelang fajar baru yang bagiku sama seperti fajar-fajar terdahulu.
Aku masih berjalan perlahan meski gontai. Tadi aku hampir menabrak pohon, barusan aku juga nyaris tersungkur setelah tersandung batu.
Sebenarnya aku ingin menjalani hidupku seperti hari-hari sebelum aku merasa muak dengan hidupku yang sekarang. Aku seolah ‘tak punya ayah_setelah ia sering memukuliku hanya kar’na dimatanya aku salah. Aku juga merasa tak ber-ibu, sejak ia_wanita yang satu-satunya ada bersamaku mulai jarang ada dirumah. Pergi selepas maghrib dan pulang entah jam berapa.
Aku akhirnya sering melahap habis waktuku dengan teman-teman yang sebaya dan senasib denganku. Aku juga mulai belajar menyulut rokok diantara jemariku. Aku masih sangat ingat saat pertama kali menghirup asap tembakau, aku terbatuk-batuk. Batuk yang sangat berat dan sangat sakit, namun tetap kutelan asap tersebut. Menurutku rasa sakit yang dirasa tubuhku malah dapat meredam kesakitan dan amarah yang bergejolak didalam jiwaku.
Sejak saat itu akupun semakin terjerumus dalam sumur narkoba dan alkohol. Aku hanya punya teman yang dekat denganku hanya bila aku sedang punya uang. Itupun pasti setelah kujual barang-barang berharga milikku. Setelah puas menikmati barang haram tersebut, merekapun lantas perlahan beranjak meninggalkanku satu persatu. Akupun hanya bisa meraba-raba kegelapan malam menuju rumah.
Akupun kini mulai tak dapat mengendalikan pikiranku, aku merasa terbang, melayang, mendekap rumput-rumput hujau yang rimbun dan tumbuh subur dengan liarnya ditepi jalan dibibir semak-semak_setelah sesaat tadi nyaris seolah malaikat maut dengan cahayanya melaju menyerempet tubuhku kar’na meniti lunglai keluar ketengah jalan.
Sekali lagi kunikmati sisa waktu malam yang tak lagi panjang bagiku dengan ditemani gejolak hembusan nafas dan diiringi tarikan otot-otot diafragma tubuhku serta ditemani titik-titik embun menjelang fajar baru yang bagiku sama seperti fajar-fajar terdahulu.
WHO - 1
Perusahaan pembuat IC yang bernama PT TRANSMITION kehilangan emas seharga miliyaran rupiah. Pada malam kejadian hanya ada 4 pekerja diruangan khusus tempat emas itu digunakan sekaligus disimpan. Emas tersebut biasa disimpan didalam lemari besi dengan kunci khusus yang hanya ada 5 buah didunia. Keempat orang tersebut masing-masing memilikinya, serta 1 buah kunci dipegang oleh leader mereka. Setelah diselidiki, Leader mereka memiliki alibi yang sangat kuat sehingga terlepas dari dugaan sebagai pelaku.
Kini mereka berempatlah yang menjadi saksi utama sekaligus calon tersangka. Adapun nama-nama mereka adalah sebagai berikut:
*HENRY KEITH, 22 th
Seorang sarjana tekhnik elektronika yang lulus dengan nilai memuaskan. Ia berasal dari keluarga yang kaya dahulunya. Ayahnya seorang pengusaha pengalengan ikan yang kini telah bangkrut. Namun deposiyo yang diwariskan pada ibunya masih cukup untuk menghidupi keempat adiknya yang masih sekolah. Oleh sebab ia anak tertua yang telah bekerja,mau tidak mau ia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri.
*BILLY JACSON MC FLY, 23 th
Anak tunggal dari keluarga sederhana. Ibunya telah meninggal. Ia anak yang pendiam dan jarang bergaul. Ia telah bekerja diperusahaan ini atas jasa salah satu bos sekaligus atasan ayahnya.
*TOMMY MORRISON, 32 th
Seorang ayah dari seorang istri dan 3 orang anak_2 lelaki dan seorang perempuan. Telah bekerja selama 4 tahun diperusahaan ini serta pernah mendapat penghargaansebagai karyawan teladan setahun yang lalu. Namun akhir-akhir ini ia seding mengalami masalah,yaitu istrinya yang berumur jauh dibawahnya tertangkap selingkuh dengan tetangganya,iapun lalu menggugat cerai istyrinya. Persidangannya sendiri akan dilaksanakan minggu depan.
* STEVE ROBERT FOLDREY, 45 th
Seorang duda beranak dua yang kesemuanya sedang kuliah di Singapura dan Australia,sehingga kini ia harus bekerja keras untuk mencukupi dan membiayai keperluan anak-anak dan dirinya sendiri. Kelakuannya kasar dan sering membuat onar diluar perusahaan. Ia cukup bernasib beruntung karena masih bekerja .
Keamanan perusahaan ini sangat ketat. Hanya ada satu pintu keluar yang selalu disiagakan seorang satpam berpengalaman. Pergantian shift dipos penjagaan tersebut terjadi setiap 8 jam sekali, dan seorang satpam tidak diperkenankan bekerja lebih dari waktu tersebut.
Adapun pergantian shift satpam adalah sebagai berikut:
Dari pukul 7 pagi hingga pukul 3 sore sebagai penjaga adalah George Mc Fly
Dari pukul 3 sore hingga pukul 11 malam sebagai penjaga adalah Neil Gibson
Sedangkan pergantian shift karyawan adalah sebagai berikut:
Shift pagi dari pukul 6 pagi hingga pukul 2 sore
Shift sore dari pukul 2 sore hingga pukul 10 malam
Shift malam dari pukul 10 malam hingga pukul 6 pagi
Sedangkan data-data kedua poenjaga adalah sebagai berikut:
*GEORGE MC FLY, 53 th
Ia memiliki seorang putra. Istrinya telah meninggal dunia 18 th yang lalu. Dua tahun lagi ia akan pension karena masa kerjanya telah habis. Ia berencana menikmati masa tuanya dengan menggunakan dana pension miliknya yang tidak terlalu besar.
* NEIL GIBSON, 34 th
Seorang suami yang setia, namun belum juga dikaruniai seorang anakpun. Ia dan istrinya bererncana berangkat keluar negeri untuk menjalani proses bayi tabung yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ia sudah 2 tahun bekarja diperusahaan ini. Kelakuannya cukup baik,namun sebulan yang lalu ia pernah terlibat perkelahian dengan Steve Robert tanpa sebab yang jelas.
Jika waktu kejadian adalah antara pukul 2 sore hingga 10 malam, kira-kira siapakah para pelaku pencurian emas dalam kisah ini?
Sore, 27 agustus 2006
Kini mereka berempatlah yang menjadi saksi utama sekaligus calon tersangka. Adapun nama-nama mereka adalah sebagai berikut:
*HENRY KEITH, 22 th
Seorang sarjana tekhnik elektronika yang lulus dengan nilai memuaskan. Ia berasal dari keluarga yang kaya dahulunya. Ayahnya seorang pengusaha pengalengan ikan yang kini telah bangkrut. Namun deposiyo yang diwariskan pada ibunya masih cukup untuk menghidupi keempat adiknya yang masih sekolah. Oleh sebab ia anak tertua yang telah bekerja,mau tidak mau ia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri.
*BILLY JACSON MC FLY, 23 th
Anak tunggal dari keluarga sederhana. Ibunya telah meninggal. Ia anak yang pendiam dan jarang bergaul. Ia telah bekerja diperusahaan ini atas jasa salah satu bos sekaligus atasan ayahnya.
*TOMMY MORRISON, 32 th
Seorang ayah dari seorang istri dan 3 orang anak_2 lelaki dan seorang perempuan. Telah bekerja selama 4 tahun diperusahaan ini serta pernah mendapat penghargaansebagai karyawan teladan setahun yang lalu. Namun akhir-akhir ini ia seding mengalami masalah,yaitu istrinya yang berumur jauh dibawahnya tertangkap selingkuh dengan tetangganya,iapun lalu menggugat cerai istyrinya. Persidangannya sendiri akan dilaksanakan minggu depan.
* STEVE ROBERT FOLDREY, 45 th
Seorang duda beranak dua yang kesemuanya sedang kuliah di Singapura dan Australia,sehingga kini ia harus bekerja keras untuk mencukupi dan membiayai keperluan anak-anak dan dirinya sendiri. Kelakuannya kasar dan sering membuat onar diluar perusahaan. Ia cukup bernasib beruntung karena masih bekerja .
Keamanan perusahaan ini sangat ketat. Hanya ada satu pintu keluar yang selalu disiagakan seorang satpam berpengalaman. Pergantian shift dipos penjagaan tersebut terjadi setiap 8 jam sekali, dan seorang satpam tidak diperkenankan bekerja lebih dari waktu tersebut.
Adapun pergantian shift satpam adalah sebagai berikut:
Dari pukul 7 pagi hingga pukul 3 sore sebagai penjaga adalah George Mc Fly
Dari pukul 3 sore hingga pukul 11 malam sebagai penjaga adalah Neil Gibson
Sedangkan pergantian shift karyawan adalah sebagai berikut:
Shift pagi dari pukul 6 pagi hingga pukul 2 sore
Shift sore dari pukul 2 sore hingga pukul 10 malam
Shift malam dari pukul 10 malam hingga pukul 6 pagi
Sedangkan data-data kedua poenjaga adalah sebagai berikut:
*GEORGE MC FLY, 53 th
Ia memiliki seorang putra. Istrinya telah meninggal dunia 18 th yang lalu. Dua tahun lagi ia akan pension karena masa kerjanya telah habis. Ia berencana menikmati masa tuanya dengan menggunakan dana pension miliknya yang tidak terlalu besar.
* NEIL GIBSON, 34 th
Seorang suami yang setia, namun belum juga dikaruniai seorang anakpun. Ia dan istrinya bererncana berangkat keluar negeri untuk menjalani proses bayi tabung yang membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Ia sudah 2 tahun bekarja diperusahaan ini. Kelakuannya cukup baik,namun sebulan yang lalu ia pernah terlibat perkelahian dengan Steve Robert tanpa sebab yang jelas.
Jika waktu kejadian adalah antara pukul 2 sore hingga 10 malam, kira-kira siapakah para pelaku pencurian emas dalam kisah ini?
Sore, 27 agustus 2006
WHO - 2
Permulaan tahun 1784, sebuah sarana transportasi yang mampu menjelajah benua serta melintasi samudera menuju ketempat tujuan umat manusia yang menaikinya semakin populer.
Ditahun yang sama juga telah terjadi pembunuhan yang menggemparkan seluruh dunia. Bagaimana tidak, seorang jutawan termuda bernama ‘Roger Trump’ tewas terbunuh disebuah pulau pribadi miliknya. Diduga salah satu dari tiga saudara kandungnyalah yang telah merenggut nyawanya. Motif sang pembunuh sangat jelas,yaitu harta warisan miliknya.
Meski Roger merupakan pengusaha terkaya no 3, ia tetap saja melajang karena baru berumur 25 tahun. Ia dapat menjadi milyuner berkat kerja kerasnya yang telah menghasilkan sebuah terobosan luar biasa dibidang usahanya.
Roger ditemukan tewas terkapar didekat villa tempat tinggalnya. Waktu itu tanggal 3 Maret, semua media informasi baik cetak maupun elektronik memberitakan kematiannya yang mengejutkan. Ia dibunuh dengan sadis.
Pada saat bersamaan, ketiga saudaranya beberapa hari sebelumnya sudah berada dipulau tersebut_yang hanya dapat dijangkau dengan pesawat pribadi.
Mereka adalah:
*Lara Trump,usia 19 tahun. Mulai mengikuti jejak kakaknya sang jutawan menjadi pengusaha sejak setahun yang lalu. Ia tiba dipulau tersebut pada tanggal 25 Pebruari & kembali keesokan harinya.
*James Trump,usia 22 tahun . seorang pengangguran. Ia hanya hidup dengan bergantung kepada saudara-saudaranya. Tiba dipulau tersebut sehari setelah adiknya datang kemari. Ia tiba siang hari sedangkan sang adik tiba pada sore hari. Ia kembali bersama adiknya.
*Andrew Trump,usia 32 tahun. Seorang direktur disalah satu perusahaan milik Roger . ia juga masuk dalam peringkat 10 besar orang-orabg terkaya didunia. Tiba dipulau tersebut pagi hari, sehari setelah adik lelakinya tiba dan kembali keesokan harinya.
Para polisi menginterogasi mereka bertiga dengan sangat ketat. Hasil yang diperoleh juga sangat memuaskan, karena dapat ditangkapnya seorang pembunuh berdarah dingin yang tega menghabisi nyawa saudaranya.
Dapatkah anda mencari tahu siapa pelaku pembunuhan kali in? dan memperkirakan kapan hari dan tanggal tewasnya korban?
Anggap saja tanggal 1 pebruari adalah hari Selasa, dan menurut tim forensik korban diyakini telah tewas sekitar antara 3 s/d 5 hari yang lalu sejak ia ditemukan.
Sore, 15 oktober 2006
Ditahun yang sama juga telah terjadi pembunuhan yang menggemparkan seluruh dunia. Bagaimana tidak, seorang jutawan termuda bernama ‘Roger Trump’ tewas terbunuh disebuah pulau pribadi miliknya. Diduga salah satu dari tiga saudara kandungnyalah yang telah merenggut nyawanya. Motif sang pembunuh sangat jelas,yaitu harta warisan miliknya.
Meski Roger merupakan pengusaha terkaya no 3, ia tetap saja melajang karena baru berumur 25 tahun. Ia dapat menjadi milyuner berkat kerja kerasnya yang telah menghasilkan sebuah terobosan luar biasa dibidang usahanya.
Roger ditemukan tewas terkapar didekat villa tempat tinggalnya. Waktu itu tanggal 3 Maret, semua media informasi baik cetak maupun elektronik memberitakan kematiannya yang mengejutkan. Ia dibunuh dengan sadis.
Pada saat bersamaan, ketiga saudaranya beberapa hari sebelumnya sudah berada dipulau tersebut_yang hanya dapat dijangkau dengan pesawat pribadi.
Mereka adalah:
*Lara Trump,usia 19 tahun. Mulai mengikuti jejak kakaknya sang jutawan menjadi pengusaha sejak setahun yang lalu. Ia tiba dipulau tersebut pada tanggal 25 Pebruari & kembali keesokan harinya.
*James Trump,usia 22 tahun . seorang pengangguran. Ia hanya hidup dengan bergantung kepada saudara-saudaranya. Tiba dipulau tersebut sehari setelah adiknya datang kemari. Ia tiba siang hari sedangkan sang adik tiba pada sore hari. Ia kembali bersama adiknya.
*Andrew Trump,usia 32 tahun. Seorang direktur disalah satu perusahaan milik Roger . ia juga masuk dalam peringkat 10 besar orang-orabg terkaya didunia. Tiba dipulau tersebut pagi hari, sehari setelah adik lelakinya tiba dan kembali keesokan harinya.
Para polisi menginterogasi mereka bertiga dengan sangat ketat. Hasil yang diperoleh juga sangat memuaskan, karena dapat ditangkapnya seorang pembunuh berdarah dingin yang tega menghabisi nyawa saudaranya.
Dapatkah anda mencari tahu siapa pelaku pembunuhan kali in? dan memperkirakan kapan hari dan tanggal tewasnya korban?
Anggap saja tanggal 1 pebruari adalah hari Selasa, dan menurut tim forensik korban diyakini telah tewas sekitar antara 3 s/d 5 hari yang lalu sejak ia ditemukan.
Sore, 15 oktober 2006
WHO - 3
Ternyata benar apa yang sering temanku Andi maupun para penulis lainnya katakan bahwa menulis itu tidak gampang. Terutama menceritakan kisah yang pernah dialami oleh orang lain.
Seperti cerita yang teman baikku ini alami. Ia mengisahkan bahwa kemarin saat ia sedang berangkat kesekolah, ia melewati jalan memotong dibibir pantai. Sewaktu melewati tikungan kekanan, ia menyaksikan seorang wanita turis asing terduduk dengan posisi seakan baru saja tertabrak seseorang_sedang berteriak minta tolong.
“HELP!!! PLEASE HELP ME SON!!” Serunya kepada Andi.
Melihat hal tersebut, Andi segera menghampirinya sambil bertanya apa yang terjadi padanya.
Iapun memberi tahu bahwa ia baru saja ingin dijambret seseorang. Sobatku ini lalu bertanya kemana pelakunya kabur.
“HE RUN TO THAT SIDE!!” Katanya dengan menunjuk kesalah satu jalan yang ada disimpang tiga itu.
Merasa tahu bahwa jalan yang ditunjuk adalah jalan buntu, Andi pun segera berlari setelah sebentar memandang butir-butir mutiara yang telah terlepas ikatannya bertaburan dengan berantakan dilapisan teratas jalan kecil tersebut.
Namun yang ia temui tidaklah semudah yang dibayangkan. Ternyata diujung jalan itu terdapat 3 orang yang sangat mencurigakan dan berpotensi menjadi pelaku. Data-data mereka adalah sebagai berikut:
Pertama;
*Gadis bernama Silvia, ia ditemukan sedang berdiri kelelahan sehabis jogging dan berada didepan box minuman otomatis sambil mengenakan dan mendengarkan lagu keras dari walkman dikedua telinganya. Ia berkata bahwa sesaat tadi merasa memang ada orang yang masuk kedalam WC umum dengan tergesa-gesa. Namun ia tidak pasti ada berapa orang, ia juga tidak melihat apakah yang datang itu pria atau wanita dikarenakan ia membelakangi pintu WC. Kejadiannya pun berlangsung cukup cepat, ditambah lagi suara dari musik Rock yang didengarnya. Ia hanya sempat melihat ketika pintu WC telah ditutup dengan keras seolah dibanting.
Kedua;
*Tuan Rendy, ia ditemukan berada dalam WC umum pria dan berkata sudah lebih dari 5 menit. Ia jug mengaku mendengar langkah-langkah berlari dan suara pintu WC disebelahnya dibanting cukup keras. Ia bersaksi bahwa telah berada disitu jauh sebelum kejadian berlangsung.
Ketiga;
*Nyonya Wenny, ia ditemukan berada didalam WC umum wanita sambil menangis. Mengaku baru saja masuk ke WC tersebut. Ia mengatakan bahwa sebelum di WC, ia sempat duduk dibangku taman yang menghadap kelaut dipinggir jalan menuju jalan buntu ini. Waktu itu ia sempat merasa melihat sekelibat bayangan orang sedang berlari dengan tergesa-gesa. Ia sendiri menangis karena semalam baru saja putus dengan pacarnya ditaman ini.
Kemudian Andi melapor kepolisi yang langsung melakukan olah TKP dengan cukup rumit. Didalam tong sampah ditemukan jubah yang dikenakan oleh pelaku,dan disusul dengan ditangkapnya pelaku kejahatan ini. Kenyataan yang terjadi memang diluar dugaan, ternyata korban mengenal pelaku tersebut. Mereka bersekongkol memainkan drama kriminal ini agar Nyonya Richie dapat memperoleh ganti rugi dari asuransi.
Menurut catatan kepolisianpun Nyonya Richie pernah beberapa kali terlibat dalam aksi tipu-menipu, namun ia dengan mudah lolos karena belum ada bukti yang cukup kuat untuk menangkap dirinya.
Menurut Andi, setelah mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya dari awal hingga akhir, ia merasa bahwa untuk menangkap pelaku tersebut sangatlah mudah. Bahkan kita tidak memerlukan polisi maupun olah TKP, hanya membutuhkan logika. Aku juga sependapat dengan dirinya.
Bisakah kalian menebak pelaku penjambretan ini dengan mengandalkan data-data yang telah kupaparkan sebelumnya…?
Sore, 05 juli 2007
Seperti cerita yang teman baikku ini alami. Ia mengisahkan bahwa kemarin saat ia sedang berangkat kesekolah, ia melewati jalan memotong dibibir pantai. Sewaktu melewati tikungan kekanan, ia menyaksikan seorang wanita turis asing terduduk dengan posisi seakan baru saja tertabrak seseorang_sedang berteriak minta tolong.
“HELP!!! PLEASE HELP ME SON!!” Serunya kepada Andi.
Melihat hal tersebut, Andi segera menghampirinya sambil bertanya apa yang terjadi padanya.
Iapun memberi tahu bahwa ia baru saja ingin dijambret seseorang. Sobatku ini lalu bertanya kemana pelakunya kabur.
“HE RUN TO THAT SIDE!!” Katanya dengan menunjuk kesalah satu jalan yang ada disimpang tiga itu.
Merasa tahu bahwa jalan yang ditunjuk adalah jalan buntu, Andi pun segera berlari setelah sebentar memandang butir-butir mutiara yang telah terlepas ikatannya bertaburan dengan berantakan dilapisan teratas jalan kecil tersebut.
Namun yang ia temui tidaklah semudah yang dibayangkan. Ternyata diujung jalan itu terdapat 3 orang yang sangat mencurigakan dan berpotensi menjadi pelaku. Data-data mereka adalah sebagai berikut:
Pertama;
*Gadis bernama Silvia, ia ditemukan sedang berdiri kelelahan sehabis jogging dan berada didepan box minuman otomatis sambil mengenakan dan mendengarkan lagu keras dari walkman dikedua telinganya. Ia berkata bahwa sesaat tadi merasa memang ada orang yang masuk kedalam WC umum dengan tergesa-gesa. Namun ia tidak pasti ada berapa orang, ia juga tidak melihat apakah yang datang itu pria atau wanita dikarenakan ia membelakangi pintu WC. Kejadiannya pun berlangsung cukup cepat, ditambah lagi suara dari musik Rock yang didengarnya. Ia hanya sempat melihat ketika pintu WC telah ditutup dengan keras seolah dibanting.
Kedua;
*Tuan Rendy, ia ditemukan berada dalam WC umum pria dan berkata sudah lebih dari 5 menit. Ia jug mengaku mendengar langkah-langkah berlari dan suara pintu WC disebelahnya dibanting cukup keras. Ia bersaksi bahwa telah berada disitu jauh sebelum kejadian berlangsung.
Ketiga;
*Nyonya Wenny, ia ditemukan berada didalam WC umum wanita sambil menangis. Mengaku baru saja masuk ke WC tersebut. Ia mengatakan bahwa sebelum di WC, ia sempat duduk dibangku taman yang menghadap kelaut dipinggir jalan menuju jalan buntu ini. Waktu itu ia sempat merasa melihat sekelibat bayangan orang sedang berlari dengan tergesa-gesa. Ia sendiri menangis karena semalam baru saja putus dengan pacarnya ditaman ini.
Kemudian Andi melapor kepolisi yang langsung melakukan olah TKP dengan cukup rumit. Didalam tong sampah ditemukan jubah yang dikenakan oleh pelaku,dan disusul dengan ditangkapnya pelaku kejahatan ini. Kenyataan yang terjadi memang diluar dugaan, ternyata korban mengenal pelaku tersebut. Mereka bersekongkol memainkan drama kriminal ini agar Nyonya Richie dapat memperoleh ganti rugi dari asuransi.
Menurut catatan kepolisianpun Nyonya Richie pernah beberapa kali terlibat dalam aksi tipu-menipu, namun ia dengan mudah lolos karena belum ada bukti yang cukup kuat untuk menangkap dirinya.
Menurut Andi, setelah mengingat-ingat kejadian yang menimpa dirinya dari awal hingga akhir, ia merasa bahwa untuk menangkap pelaku tersebut sangatlah mudah. Bahkan kita tidak memerlukan polisi maupun olah TKP, hanya membutuhkan logika. Aku juga sependapat dengan dirinya.
Bisakah kalian menebak pelaku penjambretan ini dengan mengandalkan data-data yang telah kupaparkan sebelumnya…?
Sore, 05 juli 2007
WHO - 4
Sepanjang awal pertengahan tahun seperti ini sudah sewajarnya cuaca menjadi lebih dingin karena mulai hujan deras. Tak terkecuali disebuah kota kecil yang cukkup maju seperti kota Northdost. Tapi tampaknya riuh rendah titik-titik hujan yang menghantam atap perumahan sedikit tersaingi oleh berita satu tindak kriminal kejam.
Tepat tanggal 19 juli, pukul 12.00 seorang wanita paruh baya ditemukan tewas tergeletak ditepi jalan Sakarbokrasta yang kotor tergenang Lumpur_tidak seperti biasanya. Satu-satunya saksi mata mengaku pada saat kejadian melihat seseorang setinggi 165-an cm berlari ditengah hujan lebat bermantel kelabu mengarah kesebuah jalan buntu.
Sepanjang jalan tersebut berdiri 3 buah rumah megah yang dihuni oleh 2 orang gadis dan seorang pria yang kesemuanya belum menikah.
Adalah Shawn, seorang detektif amatir mencoba menguak misteri pelaku pembunuhan ini sambil menunggu datangnya polisi. Tepat pukul 01.00, iapun mendatangi satu persatu calon tersangka dan menanyakan hal yang sama, yaitu:
Apa yang anda lakukan pada waktu kejadian?
Jawaban mereka adalah:
*Sarah, 23 th : 160 cm
Saya sudah 1 bulan terbaring karena sakit dan tidak beranjak kemana-mana.
*Leo, 32 th : 170 cm
Saya baru saja tiba dari luar kota pukul 12.30 siang ini, jadi saya juga baru tahu ada kejadian seperti ini.
*Emy, 29 th : 165 cm
Saya pukul 10.00 hingga pukul 12.30 menonton film dibioskop seberang jalan.
Karena para polisi telah tiba dilokasi, maka seperti biasa merekapun pasti mencari saksi dan bukti-bukti di TKP. Hasilnya ternyata tak jauh berbeda dengan yang diperoleh Shawn, yakni 3 orang calon tersangka, sama persis seperti dugaannya. Ketika diinterogasi, ketiganya spontan emosi karena ditanyakan hal yang sama berulang-ulang. Merekapun menegaskan bukti bahwa mereka tidak terlibat. Shawn sendiri diam-diam kembali mendengarkan pengakuan mereka bertiga.
*Leo : sebenarnya saya tidak punya waktu untuk hal tidak berguna seperti ini. Saya datang kemari dengan helikopter pribadi. Silahkan periksa jadwal penerbangan dikota Binaranchu, tempat dimana saya lepas landas.
*Sarah : sayakan sudah bilang bahra saya telah lama sakit, kalau tidak percaya ini Medikal Check dari dokter. Lagi pula, untuk apa saya ketempat yang penuh dengan Lumpur tersebut?!
*Emy : ini tiket yang saya beli untuk menonton film berdiskon tersebut. Silahkan anda tanyakan pada petugas loket yang ada.
Menurut tetangga korban, ketiga calon tersangka tersebut memang sering berselisih paham dengan korban, maka tak heran jika merekapun memiliki alasan untuk menghabisi nyawa Nyonya Fina.
Mampukah anda menangkap pelaku peristiwa ini yang ternyata telah menampakkan batang hidungnya yang berlumuran lumpur darah?
Sebab, tampaknya pelaku pasti berniat untuk segera kabur karena kini ia telah menampakkan sedikit ekspresi ketakutan karena secara tidak sengaja telah mengakui semua perbuatan kotor miliknya.
Malam, 02 agustus 2007
Tepat tanggal 19 juli, pukul 12.00 seorang wanita paruh baya ditemukan tewas tergeletak ditepi jalan Sakarbokrasta yang kotor tergenang Lumpur_tidak seperti biasanya. Satu-satunya saksi mata mengaku pada saat kejadian melihat seseorang setinggi 165-an cm berlari ditengah hujan lebat bermantel kelabu mengarah kesebuah jalan buntu.
Sepanjang jalan tersebut berdiri 3 buah rumah megah yang dihuni oleh 2 orang gadis dan seorang pria yang kesemuanya belum menikah.
Adalah Shawn, seorang detektif amatir mencoba menguak misteri pelaku pembunuhan ini sambil menunggu datangnya polisi. Tepat pukul 01.00, iapun mendatangi satu persatu calon tersangka dan menanyakan hal yang sama, yaitu:
Apa yang anda lakukan pada waktu kejadian?
Jawaban mereka adalah:
*Sarah, 23 th : 160 cm
Saya sudah 1 bulan terbaring karena sakit dan tidak beranjak kemana-mana.
*Leo, 32 th : 170 cm
Saya baru saja tiba dari luar kota pukul 12.30 siang ini, jadi saya juga baru tahu ada kejadian seperti ini.
*Emy, 29 th : 165 cm
Saya pukul 10.00 hingga pukul 12.30 menonton film dibioskop seberang jalan.
Karena para polisi telah tiba dilokasi, maka seperti biasa merekapun pasti mencari saksi dan bukti-bukti di TKP. Hasilnya ternyata tak jauh berbeda dengan yang diperoleh Shawn, yakni 3 orang calon tersangka, sama persis seperti dugaannya. Ketika diinterogasi, ketiganya spontan emosi karena ditanyakan hal yang sama berulang-ulang. Merekapun menegaskan bukti bahwa mereka tidak terlibat. Shawn sendiri diam-diam kembali mendengarkan pengakuan mereka bertiga.
*Leo : sebenarnya saya tidak punya waktu untuk hal tidak berguna seperti ini. Saya datang kemari dengan helikopter pribadi. Silahkan periksa jadwal penerbangan dikota Binaranchu, tempat dimana saya lepas landas.
*Sarah : sayakan sudah bilang bahra saya telah lama sakit, kalau tidak percaya ini Medikal Check dari dokter. Lagi pula, untuk apa saya ketempat yang penuh dengan Lumpur tersebut?!
*Emy : ini tiket yang saya beli untuk menonton film berdiskon tersebut. Silahkan anda tanyakan pada petugas loket yang ada.
Menurut tetangga korban, ketiga calon tersangka tersebut memang sering berselisih paham dengan korban, maka tak heran jika merekapun memiliki alasan untuk menghabisi nyawa Nyonya Fina.
Mampukah anda menangkap pelaku peristiwa ini yang ternyata telah menampakkan batang hidungnya yang berlumuran lumpur darah?
Sebab, tampaknya pelaku pasti berniat untuk segera kabur karena kini ia telah menampakkan sedikit ekspresi ketakutan karena secara tidak sengaja telah mengakui semua perbuatan kotor miliknya.
Malam, 02 agustus 2007
Langganan:
Postingan (Atom)
